Showing posts with label Sosial Pendidikan. Show all posts
Showing posts with label Sosial Pendidikan. Show all posts

Monday, May 16, 2011

FAM UNAIR Menggelar Aksi Panggung Seni Keliling

Surabaya - Terbentuk sejak Agustus 2010, Forum Advokasi Mahasiswa (FAM) UNAIR ini menggelar aksi panggung seni keliling. FAM UNAIR merupakan suatu wadah bagi mahasiswa UNAIR untuk  memperjuangkan hak-hak pendidikan di Universitas Airlangga dan merespon persoalan sosial politik rakyat Indonesia. Setelah berhasil membatalkan kebijakan Drop Out terhadap mahasiswa UNAIR, FAM UNAIR mengadakan kegiatan-kegiatan lainnya sebagai bentuk protes terhadap kebijakan yang dilakukan Universitas Airlangga tentunya kebijakan yang merugikan kalangan mahasiswa UNAIR.


FAM UNAIR melakukan beberapa aksi protes yang dilakukan untuk menentang adanya komersialisasi pendidikan. Pendidikan menjadi semakin mahal, orang yang kurang mampu pun sulit untuk mendapatkan pendidikan yang layak. Alhasil banyak dari anak Indonesia yang putus sekolah dan putus kuliah atau bahkan tidak menempuh pendidikan sekalipun karena mahalnya biaya pendidikan.


Pada Rabu (11/5/2011), FAM UNAIR mengadakan aksi protes dengan konsep yang unik. FAM UNAIR menggelar aksi panggung kesenian dengan berkeliling di fakultas-fakultas di Kampus B UNAIR. Beragam alat musik seperti gitar, biola dan perkusi, turut mengiringi aksi panggung seni ini.


“Ngamen di fakultas-fakultas di kampus B UNAIR sebagai salah satu kampanye  menolak kenaikan SP3 di UNAIR,” ujar Naris, pemain biola di aksi panggung seni keliling. 

Berikut ini link video FAM UNAIR saat melakukan aksi panggung seni kelliling : http://www.facebook.com/video/video.php?v=174838452569504&comments\

Naris sendiri mulai bergabung di FAM UNAIR sejak Februari 2011. Sebelum bergabung dengan FAM UNAIR, Naris hanya membantu membagikan lembaran yang berisi penolakkan yang dilakukan FAM UNAIR. FAM UNAIR juga mengadakan diskusi, dari diskusi itulah Naris tertarik untuk bergabung dengan FAM UNAIR.


Aksi tersebut dilakukan sebagai salah satu bentuk kampanye untuk menolak kenaikan SP3 di UNAIR. Dimulai dari Fakultas Imu Budaya UNAIR, kemudian ke fakultas hukum, fakultas ilmu sosial dan ilmu politik serta menuju ke fakultas ekonomi dan bisnis. Selain menyayikan lagu-lagu perjuangan, adapula anggota FAM UNAIR yang mengumandangkan puisi sambil diiringi musik. Berikut beberapa lagu yang dinyanyikan oleh FAM UNAIR Indonesia Tanah Air Beta, Halo-Halo Bandung, Lestari Alamku dan Surabaya.


“Sudah lama beta tidak berjumpa dengan kau, sekarang telah menjadi milik pemodal, mari bung rebut  Mei kembali” – petikan syair lagu yang dinyanyikan oleh FAM UNAIR

Saat FAM UNAIR menyanyikan lagu “Halo-Halo Bandung”, ada beberapa syair yang diganti terkait dengan protes atas kenaikan SP3 UNAIR. Lagu-lagu perjuangan lainnya juga turut menggambarkan aksi protes mahasiswa yang tergabung dalam FAM UNAIR ini. Dalam aksi panggung seni keliling, FAM UNAIR membawa kardus sebagai kotak sumbangan untuk melihat kepedulian mahasiswa terhadap kenaikan biaya kuliah di UNAIR.


Anggota FAM UNAIR juga membawa selebaran yang berisi penolakan terhadap kenaikan SP3 di UNAIR. Tak hanya menggelar aksi panggung seni keliling di kampus B UNAIR saja, aksi ini akan dilanjutkan pulan di kampus A dan kampus C UNAIR.

Acara yang digelar 11 Mei 2011, merupakan kelanjutan aksi FAM yang diadakan pada tanggal 2 Mei 2011 dan 8 Mei 2011. Pada Senin (2/5/2011), FAM UNAIR menggelar Upacara Rakyat dalam rangka memperingati hari Pendidikan Nasional. Sedangkan pada Minggu (8/5/2011), FAM UNAIR memperingati hari perjuangan buruh perempuan Indonesia sekaligus mengenang Marsinah, sebagai pahlawan buruh Indonesia bersama dengan organisasi mahasiswa lainnya, seperti BEM dan BLM FH UNAIR, SMHI, GMNI HUKUM UNAIR, GMNI FEB UNAIR dan GMNI FIB UNAIR.


“Untuk kegiatan ke depannya masih digodok dan diobrolin lagi di internal FAM,” ujar Naris. (aak)


Amanda Anindita Kirana 070915045

CS2 2011 Sukses Tarik Antusiasme Mahasiswa Indonesia

Siang (14/05) kemarin, kelas C-104 Fisip Unair terasa 'panas'. Di dalamnya terlihat beberapa mahasiswa dari berbagai Universitas tengah sibuk berdebat mengenai cyber village. Saking serunya, moderator, yang juga mahasiswa, sedikit kewalahan mengontrol jalannya diskusi. Para mahasiswa tersebut adalah merupakan peserta Call For Paper dalam acara Diskusi Nasional yang diadakan oleh Departemen Komunikasi Fisip Unair.

Diskusi Nasional ini merupakan salah satu dari acara Communication Student Summit 2011. Acara yang diselenggarakan di Gedung C Fisip Unair ini melibatkan setidaknya 24 tim dari lima belas universitas yang berbeda. Universitas tersebut adalah Universitas Airlangga, Universitas Indonesia, Universitas Gajah Mada, Universitas Gunadarma, Universitas Paramadina, Universitas Brawijaya, Universitas Negeri Jogjakarta, Universitas Negeri Makassar, Universitas Wachid Hasyim, UIN Sunan Kalijaga, Instika Sumenep, Universitas Udayana, Universitas Jendral Sudirman, Universitas Muhamadiyah Surakarta, dan Universitas Hasanudin

Communication Student Summit 2011 merupakan ajang bagi mahasiswa S-1 se-Indonesia untuk menuangkan gagasannya melalui karya tulis ilmiah. Acara yang disebut CS2 ini diadakan dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun Departemen Komunikasi FISIP Unair yang ke-23. Acara yang berlevel nasional ini merupakan acara tahunan dan tahun ini merupakan tahun kedua. "Dulunya, acara ini bernama Commitment. Atas beberapa saran dari teman dan dosen, kami mengganti nama acara ini dengan Communication Student Summit. Nama ini akan menjadi trademark dari Komunikasi Unair", jelas Rani Sukma Ayu Suteja, ketua Acara CS2.

Tahun ini CS2 mengusung tema Media, Cyberspace, dan Society dengan sub tema Internet: Problematika dan Dinamika dalam Masyarakat. "Tema ini menarik untuk dibahas mengingat dalam waktu hanya lima tahun saja internet memiliki pengaruh besar terhadap dunia", tegas mahasiswi semester empat ini. "Selain itu, kami ingin mengajak teman-teman mahasiswa untuk merenungkan dan memahami isu-isu yang ada karena kehadiran internet ini", lanjutnya. Ternyata tema ini mampu menarik minat para mahasiswa se-Indonesia. Terbukti sebanyak 353 abstrak diterima panitia dan terpilih 30 tim yang akhirnya maju mempresentasikan abstraknya pada saat acara berlangsung. Namun sayang, hanya 24 tim yang dapat menghadiri Diskusi Nasional.
Acara dibuka sekitar pukul 09.00 WIB oleh Dekan FISIP, I Basis Susilo. Setelah itu, acara dilanjutkan dengan  pemberian sedikit materi mengenai internet oleh Kandi Aryani selaku Keynote Speaker yang merupakan dosen Komunikasi. Acara kemudian berlanjut dengan diskusi panel. Peserta menuju panel-panel yang sesuai dengan subtema paper masing-masing. Terdapat delapan panel yang terbagi dalam dua sesi. Masing-masing panel berisi dua hingga tiga tim.

Masing-masing peserta tampak siap dengan materi dan presentasi yang akan mereka sajikan. "Saya dan tim saya merasa siap dengan apa yang akan kami sajikan. Tapi tetep saja deg-degan. hehe" cerita Nisa, peserta dari Universitas Indonesia. Perasaan yang sama pun dialami oleh Lita Permata Sari, peserta dari Universitas Brawijaya Malang, "Ini pertama kali aku lolos ke tingkat nasional, agak gugup sih. Tapi, insya Allah sukses presentasinya."
Acara yang dieksekusi oleh Hima Komunikasi ini mendapat dukungan penuh dari pihak dosen dan dekanat Fisip. Walau masih terdapat beberapa kekurangan, acara tahun ini ternyata dapat berjalan dengan sukses. "Saya mau lagi menjadi peserta Call For Paper CS2 ini. Saya belajar banyak dari perspektif yang berbeda." ujar Novi Trilisiana peserta dan wakil dari Universitas Negeri Yogykarta. Hal yang senada juga diungkapkan oleh I Komang Ana Mahardika, peserta dari Universitas Udayana Bali. "Seru deh! Selain saya belajar dan mendapat banyak pengetahuan baru. Saya juga dapat teman-teman baru. Acaranya pun dikemas menarik. Saya jadi nggak ngerasa seperti sedang berlomba. hehe," ujarnya.

Kesuksesan acara nasional ini menggugah antusias para mahasiswa beserta jajaran dosen komunikasi Unair. Rencananya, dalam dua tahun yang akan datang Departemen Komunikasi ini akan membawa acara CS2 ini ke tingkat internasional. "Pihak kami telah berencana untuk mengusung acara ini ke tingkat internasional. Semoga dapat terealisasi dan berjalan dengan baik." ujar Yuyun W. I. Surya , selaku Ketua Departemen Komunikasi, dalam sambutannya.

"Aku Bangga Menjadi Anak Indonesia" with NBC

Media massa memiliki kemampuan dalam mempengaruhi perilaku dan pemikiran Audiens, sedangkan audiens adalah penyerap informasi yang tidak hanya bisa terhubung dan menyerap informasi melalui media namun juga bisa secara langsung terhubung dan mendapat informasi melalui realita. Berita-berita yang disajikan dalam media dipaparkan secara terbuka. Keburukan negara kita yang selama ini menjadi rahasia publik juga terdengar oleh berbagai macam kelas sosial dan jenjang pendidikan. Jum’at, 6 Mei 2011 lalu telah berlangsung acara “Aku Bangga Menjadi Anak Indonesia”. Dalam acara yang digelar di ruang Publik Perpustakaan Universitas Airlangga Kampus B Lantai 1 tersebut, para pembicara memberikan pertanyaan seputar pandangan siswa-siswi terhadap Indonesia. Komentar-komentar yang keluar melalui pemikiran siswa-siswi itu ternyata sangat memilukan. Berbagai macam komentar pedas tentang Indonesia telah dilontarkan, ada yang merasa malu menjadi bangsa yang menjadi negara korup, bahkan ada yang menganggap Indonesia adalah negara yang tidak becus. Acara yang dihadiri oleh siswa-siswi SMAN 3 Sidoarjo ini membuktikan pandangan yang disampaikan oleh media, sangat mempengaruhi pemikiran kita. Bagaimana para generasi muda kita lebih mengamati sisi negatif negara, dari pada memperlihatkan kebanggannya melalui sisi positif.

Acara ini adalah salah satu bentuk dari program NBC (Nation Building Corner) Goes to School yang kedua. NBC yang berdiri pada bulan oktober 2010 ini bertujuan untuk mengenalkan para generasi muda pada tokoh-tokoh pendiri bangsa yang dapat dibaca dalam berbagai buku maupun ditonton dan didengarkan dalam rekaman peristiwa dan arsip. Dalam acara ‘Aku Bangga Menjadi Anak Indonesia’ ini NBC ingin memberikan motivasi dan memberikan inspirasi pada generasi muda tersebut agar tetap bangga menjadi bangsa Indonesia dan turut serta dalam pembangunannya. Dengan bantuan dari dengan Humas Universitas Airlangga, acara ini mendatangkan salah satu mahasiswi kebanggan Universitas Airlangga yang sangat berprestasi yaitu Ayu Kartika Dewi, salah seorang alumni Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga angkatan 2005, yang menjadi salah satu pengajar muda di program ‘Indonesia Mengajar’ dan penulis buku ‘Aku Bangga Menjadi Anak Indonesia’. Kedatangan Ayu untuk berbagi pengalamannya seputar tugas pertamanya di Halmahera sebagai pengajar dengan melepaskan pekerjaan yang dia idamkan sebagai manager consumer marketing di sebuah perusahaan asing di Singapura. Keputusan yang diambilnya ini, untuk memberikan motivasi para pelajar agar bisa mengikuti jejaknya yang mengabdi pada bangsa. Dia juga memberikan inspirasi-inspirasi yang bertujuan untuk menumbuhkan kembali pemikiran positif tentang bangsa ini, karena jika para generasi muda tidak mencintai bangsa kita, siapa lagi yang akan mencintai bangsa ini?

Turut memeriahkan pula Wakil Rektor I Universitas Airlangga, Bapak Prof. Dr. H. Achmad Syahrani, Drs. MS yang ikut menyumbangkan pesan, inspirasi dan motivasi untuk siswa-siswi SMAN 3 tersebut. Pesan-pesan yang terdengar cukup akrab ditelinga siswa-siswi ini namun bermakna berbeda, seperti saat beliau memberi pesan bahwa sebagai generasi muda, kita harus terbebas dari penyakit Ku-Dis (Kurang Disiplin), Ku-Rap (Kurang Rapi), Ku-Til (Kurang Teliti), dan Ku-Man (Kurang Beriman) agar dapat menjadi sosok yang sukses dan berguna bagi bangsa Indonesia. Tak hanya generasi muda yang turut diberi pesan, namun para pembicara dan generasi tua lainya juga diberikan pesan agar berhati-hati dengan penyakit AIDS (Aku Ingin Duit Sebanyak-banyaknya atau Aku Ingin Duit Secepatnya) yang mengakibatkan timbulnya korupsi. Maka dari itu, beliau memberikan motivasi-motivasi untuk memerangi hal-hal yang sikapnya merugikan sejak dini.

Tri Wulan Wijayanti
070810198

“Siapa Bilang Bikin Kecanduan!”

Jouw (nama samaran), seorang mahasiswa semester tiga salah satu Perguruan Tinggi Negeri ternama di Surabaya, menolak bahwa pemakai narkoba jenis ganja selalu dianggap sebagai pecandu. Ganja adalah tumbuhan budidaya penghasil serat, namun lebih dikenal karena kandungan zat narkotika pada bijinya yang dapat membuat pemakainya mengalami euforia, rasa senang yang berkepanjangan tanpa sebab.

Tanaman ganja biasanya dibuat menjadi rokok mariyuana dan hanya tumbuh di pegunungan tropis dengan ketinggian di atas 1.000 meter di atas permukaan laut. Di Indonesia, ganja dibudidayakan secara ilegal di Provinsi Aceh. Biasanya ganja ditanam pada awal musim penghujan, menjelang kemarau sudah bisa dipanen hasilnya. Hasil panen ganja berupa daun beriut ranting dan bunga serta buahnya berupa biji-biji kecil. Campuran daun, ranting, bunga, dan buah yang telah dikeringkan inilah yang biasa dilinting menjadi rokok mariyuana.

”Siapa yang bilang coba-coba itu bakal jadi pecandu. Enggak selalu, tergantung gimana orangnya manage nafsu,” tegasnya. Pemuda 20 tahun ini kali pertama mencoba ganja saat berusia 17 tahun. Ketika itu, ia ditawari oleh salah seorang temannya untuk bersama-sama mencoba daun tersebut di salah satu rumah rekannya yang lain. Barang itu dibeli temannya dari salah seorang bandar, yang tidak dapat disebutkan namanya, dengan harga 50 ribu rupiah per pocket. Satu pocket ganja setara dengan tiga batang rokok. Apabila si bandar sedang sepi barang, ia tidak merasa gelisah ataupun sakit-sakitan karena baginya ganja bukan candu.

Menurut Jouw, efek negatif secara umum adalah pengguna akan menjadi malas dan otak akan lamban dalam berpikir. Namun, tambahnya, hal tersebut masih menjadi kontroversi, karena tidak sepenuhnya disepakati oleh beberapa kelompok tertentu yang mendukung medical marijuana dan marijuana pada umumnya. Selain diklaim sebagai pereda rasa sakit, dan pengobatan untuk penyakit tertentu, termasuk kanker, banyak juga pihak yang menyatakan adanya lonjakan kreativitas dalam berpikir serta dalam berkarya, terutama pada para seniman dan musisi.

Pikiran yang santai, damai dan tenang merupakan tujuan pemuda berambut gondrong ini untuk menghisap ganja sambil diiringi dengan alunan musik reggae, shoegaze dan dub music. Namun, disisi lain, dampak buruk jangka panjang dari ganja membuatnya berpikir dua kali untuk terus mengonsumsi barang tersebut. ”Iya tau, bisa bikin daya ingat dan konsentrasi menurun drastis sama ceroboh juga. Dan aku sekarang sudah ngrasain itu,” ungkapnya. Oleh karena itu, sekarang ia tidak mau lagi untuk berurusan dengan daun memabukkan tersebut.

Tanaman yang tingginya mencapai dua meter ini menjadi simbol budaya hippies yang pernah populer di Amerika Serikat. Selain itu ganja dan opium juga didengungkan sebagai simbol perlawanan terhadap arus globalisme yang dipaksakan negara kapitalis terhadap negara berkembang. Di India, sebagian Sadhu, penyembah dewa Shiva menggunakan produk tumbuhan ini untuk melakukan ritual penyembahan dengan cara menghisap melalui pipa. Di India, sebagian Sadhu, penyembah dewa Shiva menggunakan produk tumbuhan ini untuk melakukan ritual penyembahan dengan cara menghisap melalui pipa.

Sunday, May 15, 2011

Bidik Misi: Antara Kebanggaan dan Pengabdian


Tingginya biaya pendidikan di Indonesia saat ini akhirnya mengakibatkan timbulnya masalah-masalah baru. Masalah-masalah baru tersebut menjadi lebih kompleks karena mempengaruhi usaha pemerintah dalam mengentaskan kemiskinan di Indonesia dan menuju pada kesejahteraan masyarakat. Padahal pendidikan ialah eskalator sosial ekonomi yang merupakan instrumen rekayasa struktural masyarakat ke depan.
            Semakin sulit dijangkaunya biaya pendidikan di tanah air, membuat masyarakat yang hidup di bawah garis kemiskinan, yang mana jumlah keluarga miskin di Indonesia masih menempati angka yang cukup tinggi sulit untuk bersekolah hingga jenjang yang tinggi. Sehingga anak-anak dari keluarga kurang mampu tak dapat meningkatkan status sosial dan ekonominya sendiri. Melihat situasi tersebut, pemerintah tidak tinggal diam. Bekerjasama dengan Kementerian Pendidikan Nasional, terselenggaralah program beasiswa bagi lulusan SMA yang bersal dari keluarga kurang mampu dan berprestasi untuk melanjutkan pendidikannya ke jenjang universitas. Program ini dinamakan program Bidik Misi, di mana telah diselenggarakkan sejak tahun 2010 lalu.
            “Saya senang sekali dengan program Bidik Misi, karena memang bisa membantu ya..” ujar Punari, S.Sos., M.Si yang menjabat sebagai Kepala Sub Bagian Kemahasiswaan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Airlangga Surabaya. Menurutnya, dengan adanya program Bidik Misi, mahasiswa dari golongan tidak mampu dapat melanjutkan ke bangku kuliah secara gratis. Dengan begitu, tingkat pendidikan di Indonesia akan meningkat nantinya.
            Hadirnya program bidik misi ini juga ditanggapi sangat positif oleh penerimanya. Salah seorang contohnya ialah Wieke Setiowati, gadis yang baru saja ditetapkan lulus dari SMA Negeri 14 Surabaya ini merasa sangat senang dengan adanya program yang sangat membantunya untuk melanjutkan kuliah. “Saya senang sekali, kan awalnya saya mikir nggak akan bisa nerusin kuliah, tapi alhamdulillah dapet bidik misi,” ungkap cewek yang tinggal di kawasan Nginden ini. “Sama sekali nggak nyangka, bangga akhirnya bisa kuliah di kedokteran hewan Unair,” lanjutnya lantas tersenyum.
            Dalam prosesnya, bidik misi ini ditangani secara langsung oleh Rektorat Universitas terkait, di mana pihak kemahasiswaan didelegasikan untuk menghubungi calon-calon mahasiswa yang diterima. “Ini, kalau bidik misi ini prosesnya bukan kewenangan kita, tapi dari rektorat, kita hanya menghubungi,” kata Punari. Pria murah senyum ini lantas menambahkan bahwa dalam bidik misi, benar-benar pihak kemahasiswaan fakultas tidak ikut campur untuk menentukan, dengan kata lain hanya sebagai pihak penghubung saja.
            Kehadiran bidik misi ditanggapi positif dan membanggakan bagi penerima serta penyelenggara pendidikan. Namun, keberadaannya juga menimbulkan sedikit problem. “Gini, penerima bidik misi ini saya nilai kurang loyal kepada Unair,” ungkap Punari kembali. “Melihat penerima bidik misi 2011, mereka suka tidak datang di upacara, seminar yang diadakan Unair, kan harusnya mereka loyal dengan universitasnya melihat mereka penerima bidik misi, sudah dibantu,” tambahnya. Pria klimis ini menyatakan bahwa penerima bidik misi kerap tidak menghormati dengan yang memberikan beasiswa, banyak menuntut dengan berdemo dan menyudutkan universitas terkait duit bidik misi. “Padahal kan, kita hanya penyelenggara, duitnya semua ada di Bank Indonesia, bukan kita,” pungkasnya sedikit emosional.
            Sebenarnya program yang digagas salah satunya oleh Muhammad Nuh ini, sangat baik dan membantu. Oleh karenanya, menurut Punari bidik misi tahun ini harus punya komitmen yang jelas dan selektif. “Ya agar lebih selektif karena masih banyak datang dari keluarga cukup mampu, oh iya mudah-mudahan penerima bidik misi belajar yang rajin karena banyak penerimanya malah enak-enakan, mungkin mereka merasa sudah lebih pintar dari teman-temannya yang lain,” ceritanya. Bapak yang ramah ini juga menambahkan bahwa jangan setelah menerima bidik misi, mahasiswa jadi terlalu manja dan menjadi banyak menuntut Universitas. (nin)



~Chairina (070810660)