Showing posts with label Teknologi. Show all posts
Showing posts with label Teknologi. Show all posts

Tuesday, May 17, 2011

Otodidak dan 'Nanggung' Teknologi Ala Silia Fisip Unair

Tampilan beranda Silia Fisip Unair

          Silia, atau Sistem Layanan Informasi Akademik. Seluruh jajaran civitas akademika di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (Fisip) Universitas Airlangga tentu tak asing lagi dengan istilah tersebut.  Silia adalah sebuah sistem online terkait kegiatan akademik mahasiswa mulai dari pengisisan Kartu Rencana Studi (KRS), rekap Kartu Hasil Studi (KHS),  hingga mengecek mata kuliah apa yang bisa diambil semester ini.
Semester ganjil, September 2010 lalu, Silia masih menjadi teknologi kaget di Fisip. Banyak mahasiswa yang tak mengetahui Silia, tiba-tiba harus dihadapkan dengan pengisian KRS semi online lewat Silia. Seperti yang diungkapkan Paramadina Yuni Astika (13/5).  “Awalnya repot juga, karena tanpa ada sosialisasi, mahasiswa dituntut untuk bisa KRS-san secara  online,” ujar mahasiswa Ilmu Komunikasi 2009 ini. “Jadi mahasiswa harus cari tau sendiri,” imbuhnya. Sejak itulah Silia menjadi teknologi otodidak di kalangan mahasiswa Fisip.
Sosialisasi Silia sebenarnya pernah dilakukan pada mahasiswa Fisip (16/8/2010), namun karena keterlambatan tim sosialisator dari Unit Sistem Informasi Fisip, banyak mahasiswa yang meninggalkan Ruang Adisukadana, tempat sosialisasi Silia(Jendela Fisip, September 2010).
Semester genap ini, Silia resmi digunakan 100% untuk proses pengisisan KRS. Dengan laman  http://silia.fisip.unair.ac.id/ format Silia memang terbilang standar, sehingga mudah dipelajari sendiri. Namun sebagai teknologi baru goncangan dari berbagai pihak tentu terjadi.
Bagi Wisnu Pramutanto, salah satu Dosen Program Studi Ilmu Politik Silia sangat membantu, “Ya yang pasti mempermudah dosen, jadi tinggal acc (validasi,red.) saja,” ucap dosen yang mengaku tak keseulitan menggunakan silia ini. Hal serupa juga diungkapkan Sri Moerdijati, Dosen Ilmu Komunikasi, “Dosen jadi bisa mengontrol secara langsung, mata kuliah yang dipilih mahasiswa, selain itu pengumuman bisa dilakukan tanpa tatap muka dengan mahasiswa. Silia juga ramah lingkungan, karena hemat kertas” ujarnya.
Mudah bagi dosen, namun belum belum tentu mudah bagi mahasiswa, Mizela Trimursri Ayu Lourensi, mahasiswa Ilmu Komunikasi 2009 mengatakan bahwa Silia masih sangat nanggung sebagai teknologi baru, karena belum 100% online. “Masih nanggung, kalo misalnya mau online, harusnya online semua dong, tapi ini tetap harus ke kampus ngambil KHS dan registrasi, jadinya malah ribet,” ujarnya.
Bagi Staff Departemen Program Studi yang ada di Fisip sendiri, Silia melahirkan pekerjaan baru bagi mereka. Dulu mahasiswa mencari sendiri mata kuliah apa yang ditawarkan dan yang bisa diambil  hanya dengan bimbingan dari dosen wali. Sekarang Staff Departemenlah yang berkewajiban untuk menginput data mata kuliah apa yang ditawarkan kepada  mahasiswa. Sehingga mahasiswa lebih dimudahkan dengan tinggal memilih mata kuliah yang ditawarkan.  
Indah Tri Imayah, Staff Administrasi Hubungan Internasional mengatakan walaupun Silia sangat membantu mahasiswa dan input data tidak terlalu menjadi masalah bagi dirinya, kinerja Silia sejauh ini masih mencapai 80%. Beberapa kesalahan input  memakan waktu lama untuk direvisi.
"Ya mungkin karena masih baru ya, input data sebenarnya nggak susah, tapi terkadang kalau ada komplain nggak segera diselesaikan," ucapnya. 
Tidak cepat diatasinya komplain tersebut menurutnya disebabkan tidak adanya staff khusus yang menangani Silia. Sejauh ini Silia masih dipegang oleh Unit Sistem Informasi Fisip yang juga dosen pengajar di Fisip Unair. "Ya ke depan, Silia ada Staff khususnya lah, supaya kalo ada komplain secara teknis kita tau harus pergi dan ngadu ke mana," pungkasnya.

Tampilan Kartu Rencana Studi Silia Fisip Unair

RIZA ROIDILA MUFTI / 071015063

Saturday, May 14, 2011

Aku Narsis Maka Aku Eksis

Judul di atas sebenarnya hanya sebuah plesetan dari ungkapan filsuf Perancis, Decrates, tentang manusia modern yang menggunakan pola pikirnya untuk maju. “Aku berpikir, maka aku ada.” Begitulah seharusnya bunyi ungkapan tersebut.
Sayangnya, ungkapan Decrates tadi tidak berlaku pada orang Indonesia akhir-akhir ini.  Yang berlaku, ya, ungkapan “Aku Narsis maka Aku Eksis” tadi. Bagaimana tidak? Setiap waktunya lahir wajah-wajah baru di media massa kita yang mendadak terkenal akibat mengupload kenarsisan mereka di situs Youtube.
Briptu Norman, adalah nama terakhir yang terlihat mondar-mandir di layar televisi dan newsfeed Yahoo di labtop saya. Namanya tiba-tiba meroket pasca video lipsing “Chaiya, Chaiya”-nya beredar di dunia maya.
Brigadir Satu asal Gorontalo itu pun lantas kebanjiran tawaran untuk menghadiri berbagai acara di berbagai media.Hal ini secara praktis menjadikannya eksis di media massa dalam waktu sekejap.
“Saya nggak nyangka ini bakal terjadi. Awalnya video itu hanya iseng saya buat untuk menghibur teman saya yang sedang sedih,” ungkap Briptu Norman setiap kali ditanya oleh media tentang “Nyangka nggak sih bakal jadi terkenal?”
Usut punya usut, ternyata di antara kawan-kawan kita sesama mahasiswa dan mahasiswi Unair pun ada yang memanfaatkan teknologi internet untuk ajang narsis-narsisan. Mudah memang memanfaatkan teknologi ini. Cukup bermodalkan digital-camera (digi-cam) atau kamera webcam dari labtop, ditambah akses internet untuk upload, plus akun Facebook atau Youtube, wajah kita-pun dalam sekejap muncul menjadi tontonan orang-orang sedunia.
Bedanya mungkin terletak pada nasib saja. Jika Briptu Norman sudah melalang-buana di antero jagad pertelevisian, media cetak,  dan dunia maya, kawan-kawan kita ini mungkin hanya menjadi bahan gossip teman-teman sekampus saat sedang nongkrong di kantin. Hehehe.
Gilang, misalnya. Cowok berbadan tambun jurusan ilmu Komunikasi Unair ini sempat merilis video lipsing bersama teman SMAnya beberapa waktu lalu. Bermodalkan kamera webcam dari labtopnya, ia melipsing lagu Terapi Energi yang sempat dipopulerkan oleh grup musik alternetive-rock Indonesia, Saint Loco.
Sekilas, jika melihat pemilik nama lengkap Gilang Marga Adhita ini mungkin biasa saja. Kesan lugu dan pendiam menjadi sifat yang dikenal oleh teman-teman Gilang sehari-harinya. Namun siapa sangka dibalik keluguan tersebut, Gilang sangat ekspresif sekali menyanyikan lagu terapi energy secara lipsing.
“Sebenernya nggak diupload ke Youtube kok. Cuma ke Facebook aja. Kebetulan aku suka nyanyi. Tapi karena nggak berani nyanyi di depan orang, aku mending pakek webcam aja. Pertamanya mau nyanyi sih. Tapi karena nggak pede yaudah lipsing aja hehehe,” cerita cowok asal Madiun ini.
Aksi Gilang melipsing lagu Terapi Energi bisa disaksikan melalui link di bawah ini :
Sama halnya dengan Gilang, Riza Roidilla pun mengupload video lipsingnya bersama teman-temannya saat bermalam di kampus untuk mengerjakan tugas. “Iya, waktu itu ak sama temen-temen lagi pusiing ngerjain tugas di kampus. Sampai nginep-nginep pula waktu itu. Saking penatnya kita iseng-iseng aja gila-gilaan di depan webcam. Terus kita taruh deh di Youtube,” jelas Mahasiswi angkatan 2009 ini.
Video yang diupload Riza bersama teman-teman seangkatannya ini sempat heboh dalam sepekan. Mulai dari teman-teman satu angkatan hingga para senior pun penasaran dengan video yang konon berjudul KBU Terbakar. Bahkan, gaung video ini pun pada akhirnya sampai ke telinga para dosen dan menjadi bahan omongan diantara mereka.
Untuk melihat video karya Riza, dkk bisa mengklik link berikut :
(zaq)

Wi-Fi Byar Pet Bikin Empet


Salah satu hak sebagai mahasiswa Universitas Airlangga, Surabaya, adalah bebas menggunakan fasilitas Wireless Fidelity atau biasa disingkat Wi-Fi untuk berselancar di internet. Tetapi bagaimana kalau fasilitas tersebut tidak dapat dinikmati dengan leluasa? Hal tersebut dialami oleh para mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya (FIB). Leo adalah salah satunya. Mahasiswi Sastra Inggris ini mengaku jengah dengan sambungan internet di fakultasnya. “Waktu dulu baru masuk, internet lancar. Tapi setelah itu ada perbaikan, lantas jadi lambat, kadang malah nggak nyambung. Lalu diperbaiki lagi, tapi sama saja. Lama-lama aku malas pakai wi-fi kampus,” keluh mahasiswi angkatan 2009 itu, saat ditemui Jumat (13/5) “Apalagi wi-finya nggak bisa dipakai di semua tempat.”
                Pernyataan Leo diamini oleh rekannya, Carla. Menurutnya, kecepatan internet yang disediakan oleh Laboratorium Komputer FIB malah lebih baik. “Jadi aku lebih sering nge-net di sana. Apalagi kalau sedang benar-benar butuh buat garap tugas,” tuturnya. Carla pun makin jarang membawa laptop-nya ke kampus. “Aku terakhir pakai wi-fi semester 3. Sekarang kapok.”
                Namun bukan mahasiswa namanya jika tidak mencoba mencari pemecahan masalah. Hani, misalnya. Mahasiswi jurusan Sastra Inggris angkatan 2010 ini memilih memundurkan waktu pulangnya demi bisa mendapatkan kecepatan maksimum saat bertamu ke dunia maya. “Kalau pagi atau siang kan banyak yang pakai, jadi lemotnya minta ampun. Aku biasanya pakainya malam,” ujar gadis berjilbab ini. Hani mengaku tak masalah harus pulang saat hari sudah gelap hanya untuk main internet. “Saya kos, jadi tidak ada yang mengomeli kalau harus pulang malam-malam. Selain itu bisa berhemat,” katanya. Tak hanya itu cara yang ditempuh mahasiswa FIB demi mencari sambungan internet. Nimas, mahasiswi Sastra Inggris lainnya, rela berkelana ke fakultas lain. “Saya biasanya pindah ke FISIP, walau kadang sama saja sih,” kata gadis berambut sebahu ini.
                Menurut Unit Sistem Informasi FIB (USI FIB), hal tersebut terjadi karena padatnya lalu lintas internet pada jam tersebut. “Bandwidth setiap fakultas dijatah oleh Unair pusat. Oleh para admin, bandwidth tersebut dibagi tiga, yakni untuk dosen, untuk mahasiswa, serta untuk admin sendiri,” terang Aziz, salah seorang petugas USI FIB. Dia kembali menerangkan bahwa sesungguhnya, Wi-Fi FIB diperuntukkan bagi mahasiswa, sebab Wi-Fi untuk dosen telah disediakan khusus. “Kalau Wi-Fi-nya lambat, itu karena jumlah mahasiswa yang menggunakannya banyak,” imbuhnya.
                Aziz pun menjelaskan tentang keluhan Leo mengenai jangkauan sinyal Wi-Fi yang tak terlalu luas. “Jangkauannya memang terbatas. Hanya di sebelah selatan gedung FIB, sementara bagian utara yang dekat dengan FISIP belum ter-cover.”
                Penulis sendiri sempat akan mencoba Wi-Fi di FIB. Namun ternyata, untuk menyambungkan perangkat ke sinyal Wi-Fi, diperlukan registrasi. “Memang sengaja kami buat seperti itu. Hal itu dilakukan untuk, yang pertama, pendataan. Sementara yang kedua, demi keamanan,” Aziz berujar. Dia menambahkan, bahwa prioritas Wi-Fi di fakultas itu adalah mahasiswa FIB. Jika ada mahasiswa dari fakultas lain ingin ber-internet nirkabel ria, maka mereka harus melalui proses yang sama seperti mahasiswa FIB, yaitu melakukan registrasi terlebih dahulu. “Registrasi tersebut berlaku sekali untuk seterusnya. Asal mereka tidak ganti laptop, maka tidak masalah.”
                Nampaknya, Leo dan kawan-kawan harus bersabar sedikit lebih lama untuk mendapatkan internet bebas hambatan. Sebab, akan ada penerapan sistem internet baru yang dilakukan oleh kantor pusat, sehingga bandwidth Wi-Fi FIB akan turun di akhir pekan selama dua minggu. “Saya sendiri masih belum tahu apakah sistem internet tersebut, yang jelas akan ada penurunan jumlah bandwidth. Sehingga internetnya mungkin akan jadi sangat lambat, atau malah tidak bisa dipakai sama sekali,” terang Aziz lagi.

Perpustakaan Unair Optimalkan Teknologi Informasi Lewat 'Garuda'

GARUDA: Garba Rujukan Digital
 

Perpustakaan merupakan salah satu tempat yang paling dicari mahasiswa terkait dengan pencarian sumber referensi akademik. Dulu untuk menikmati sebuah buku dari perpustakaan kita harus datang dan meminjam secara langsung. Namun, kini dengan akses internet kita bisa melakukannya dimanapun dalam bentuk digital.

Demikian pula dengan Perpustakaan Universitas Airlangga yang senantiasa memberikan pelayanan terbaik untuk mahasiswa. Adanya Digital Library Airlangga University merupakan salah satu jawaban atas kebutuhan mahasiswa yang dituntut untuk semakin cepat dalam mengakses informasi. Layanan Digital Library Airlangga University yang tersedia ini berupa EBooks, Airlangga Digital library Network (ADLN), Online Public Access Catalog (OPAC) dan E-Journal.  E-Journal sendiri dapat dinikmati mahasiswa secara gratis yang terhubung dengan situs jurnal lain seperti SAGE, Sciencedirect, Spingerlink, Proquest dan Gale.

Tak hanya sampai disitu. Kini Perpustakaan Universitas Airlangga memiliki sumber referensi baru untuk memperkaya rujukan ilmiah mahasiswa yaitu Garuda (Garba Rujukan Digital). “Garuda ini adalah sumber referensi milik DIKTI,” jelas Dewi Puspitasari,. A.Md, SH. Humas Pepustakaan Kampus B Unair yang ditemui siang itu (13/05). Garuda sendiri merupakan sebuah portal referensi ilmiah yang dikembangkan oleh Direktorat P2M-Dikti Depdiknas dan bekerjasama dengan PDII-LIPI serta berbagai perguruan tinggi dalam hal penyediaan konten. 

Tampilan Halaman Awal Garuda (foto: http://liyantanto.files.wordpress.com)

Layanan Garuda ini berisi jurnal, prosiding, laporan penelitian, seminar, pidato pengukuhan, skripsi, thesis, disertasi, koleksi lokal/ daerah dan karya umum yang dihasilkan oleh akademisi dan peneliti Indonesia. Portal ini bisa dinikmati tak terbatas pada kalangan akademisi saja namun juga bisa diakses oleh para peneliti, professional, dan juga masyarakat umum. Garuda menyuguhkan menu download full text skripsi yang tentu sangat membantu mahasiswa khususnya.

Hal ini tentu disambut gembira oleh mahasiswa. “Portal Garuda ini sangat membantu karena bisa menambah literatur skripsi ku,” ujar Bima Fajar Nugraha. Mahasiswa Fisip semester akhir ini menjelaskan bahwa dalam proses pengerjaan skripsinya cukup menyita waktu. Oleh karena itu Bima jarang ke Perpustakaan secara langsung untuk mencari buku. Ia lebih memilih menggunakan fasilitas Digital Library berupa Garuda karena isinya lengkap dan faktor efisiensi waktu. “Di Garuda ini banyak skripsi yang bisa dijadikan literatur dan lebih mudah mencarinya dari pada langsung lihat hardcopy nya,” imbuh Bima.

Begitu pula dengan Ziadatur Rohmah yang mengaku terbantu dengan hadirnya Garuda. “Aku paling sering cari skripsi pakek Garuda karena cepat dan lengkap,” jelas mahasiswi Fisip jurusan Ilmu Komunikasi ini. Ziadatur memanfaatkan akses tersebut untuk mengerjakan tugas yang membutuhkan banyak literatur. Bila sebelumnya akses digital library lainnya hanya menyediakan skripsi dalam lingkup Universitas Airlangga, kini dengan menggunakan akses Garuda Library Digital Ziadatur bisa menikmati referensi skripsi dengan ruang lingkup yang lebih luas. “Jadi sumber yang didapat lewat buku bisa dibandingkan dengan beberapa sumber yang ada di Garuda misalnya skripsi, thesis dan hasil penelitian lainnya”, tambahnya.

Salah satu sumber referensi lengkap milik DIKTI (foto: http://liyantanto.files.wordpress.com)

Dengan hadirnya sumber referensi baru berupa portal Garuda (Garba Rujukan Digital) mahasiswa diharapkan dapat merasakan manfaatnya terutama dibidang akademis. Selain itu juga dalam rangka mengefisienkan penggunaan teknologi informasi dan komunikasi di Perpustakaan Universitas Airlangga sesuai dengan mottonya yaitu For Better Knowlegde and Better Future. Untuk mendapatkan panduan penggunaan Garuda klik disini. (din)

PARAMADINA | 070915082

Pentingnya Blackberry Bagi Pengguna


     SURABAYA - Seperti yang kita tahu dewasa ini smartphone blackberry telah memiliki banyak pengguna yang bertambah tiap harinya. Alasan utama yang membuat blackberry memilik banyak pengguna adalah karena blackberry mempermudah para penggunanya untuk berkomunikasi dengan orang lain, setidaknya itulah yang diungkapkan oleh Atik Dwi Prameswari, salah satu pengguna saat ditanya alasannya memakai blackberry sebagai telepon genggamnya. Wanita yang akrab dipanggil Atik tersebut mengungkapkan bahwa dengan menggunakan blackberry dia bisa mengakses informasi dan mempermudah mengakses situs jejaring social. “Di fakultas tempatku kuliah semua temen-temenku banyak yang pake blackberry, jadi aku juga pake yang temen-temenku pake biar sama”, ungkap mahasiswi Fakultas Hukum Universitas Airlangga tersebut. Wanita berambur panjang tersebut juga menambahkan, “temen-temenku yang pake blackberry juga cenderung males bales SMS, makanya aku pilih pake blackberry biar lebih mempermudah”. Mahasisiwi semester empat tersebut juga mengatakan bahwa Blackberry sangat membantu dalam mengerjakan tugas-tugas kuliahnya dan juga membantunya untuk bertanya atau berbagi ilmu dengan teman-temannya melaui fitur BBM. Blacberry memang dikenal memiliki koneksi yang cukup cepat dalam mengakses internet dibanding smartphone lain di kelasnya.

     Selain karena memang fitur-fitur yang canggih dan dapat membantunya melakukan aktifitasnya, ada hal lain yang menyebabkan Atik memilih Blackberry daripada smartphone lain seperti Apple maupun smartphone lain yang menggunakan teknologi Android. Hal itu karena banyaknya teman-temannya yang menggunakan. Atik pun sepertinya mengikuti arus tren teknologi dan akhirnya memilih Blackberry. 

     Wanita yang baru sebulan menggunakan blackberry ini mengaku ada beberapa hal negatif saat menggunakan blackberry. Salah satunya adalah terganggunya konsentrasi saat belajar,bahkan lupa akan kewajibannya sebagai mahasiswa untuk belajar karena fitur Blackberry Messenger atau yang lazim disebut BBM. “Akunjuga lebih banyak ngeluarin uang buat beli pulsa biar bisa langganan Blackberry Internet Service (BIS)”, ungkapnya. “Kadang-kadang Blackberry juga membuat saya jengkel, misalnya sedang asik-asiknya BBM-an sama temen-temen tiba-tiba koneksinya macet”, ungkap mahasisiwi yang pernah berkuliah di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas airlangga selama satu tahun tersebut. Wanita yang sehari-harinya berangkat kuliah dengan naik mobil temannya tersebut mengaku kalau Blackberry kadang-kadang menghambatnya mmengerjakan tugas kuliah karena tidak bisa fokus. Saat ditanya tentang apakah sisi

     Memang wajar jika sesuatu hal memiliki sisi negatif dan sisi positif, karena adanya suatu kelebihan dari suatu teknologi pasti dibarengi juga dengan kekurangan. Tidak terkecuali Blackberry yang merupakan teknologi yang menjamur di Indonesia khususnya dalam hal ini di lingkungan Universitas Airlangga Surabaya. Banyak sekali mahasiswa maupun dosen yang menggunakan layanan Blackberry untuk mempermudah mengakses informasi maupun berkomunikasi dengan orang lain.

     Jadi apa yang diungkapkan oleh Atik tadi memang wajar dan tidak mengada-ada. Teknologi selalu membuat para penggunanya kecanduang dan kadang melupakan hal-hal yang lebih penting. Misalnya saja seperti yang dialami Atik yang kadang-kadang mengesampingkan tugas kuliahnya dan lebih memlilih mengakses situs jejaring sosial dengan menggunakan Blacberry miliknya. Menurut mahasiswa asal Kabupaten Jombang tersebut Blackberry lebih banyak memilik sisi positif daripada sisi negatifnya. Padahal teknologi seharusnya harus bisa kita kendalikan dan bukannya teknologi yang mengendalikan kita. Semua memang tergantung pengguna yang mengadaptasi sebuah teknologi. Jika pengguna teknologi memang menginginkan kemudahan dan menginginkan efisiensi waktu dalam sebuah teknologi, maka seharusnya teknologi bisa dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Seperti kemudahan yang ditawarkan oleh Blackberry pada para penggunanya. (Dreses Putranama / 070915055)

Android dan BlackBerry, Kebutuhan ? atau Trend ?




Surabaya – Jumat (13/5),suasana Galeri Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Airlangga , dipenuhi oleh mahasiswa – mahasiwa yang aktif memainkan gadgetnya. Mahasiswa - mahasiwa tersebut tidak hanya serius mengerjakan tugas perkuliahan , namun ada juga yang sibuk bermain alat telekomunikasi cangginya, BlackBerry ataupun Android yang kini sudah semakin banyak digunakan oleh para mahasiswa.

BlackBerry dan Android semakin menyerbu pasaran di Indonesia saat ini. Banyak khalayak yang memilih BlackBerry maupun Android sebagai Operating System di alat telekomunikasi mereka , khususnya pada HandPhone, dibandingkan dengan HandPhone biasa yang bisa digunakan untuk Internet namun accessnya tidak secepat Android ataupun BlackBerry.

Pengguna Android dan BlackBerry kini lebih banyak digunakan oleh para pelajar khsusnya mahasiwa, dibandingkan para pekerja kantoran. Galih Listya Adhy S (20), Mahasiswa Jurusan Komunikasi Airlangga misalnya, lelaki bertubuh ini mengayatakan kecintaanya pada Android ketika ditemui di Galeri Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, siang tadi, “ Dari awal memang aku lebih tertarik pake android sih dari pada BlackBerry,soalnya fiturnya lebih banyak dan access Internetnya lebih cepat juga,” ungkapnya.

Lain halnya dengan Demitria Nabella (19),mahasiswa Kedokteran Gigi yang  bercerita lebih memilih BlackBerry dibandingkan Android,ketika wawancara di kosnya Jl, Karang Menjangan II / 5 Surabaya, “ Aku lebih suka pake BB ( BlackBerry ) soalnya ada BlackBerry Messengernya,”katanya.

Perbandingan antara BlackBerry dan Android memang menjadi pertimbangan bagi para pencinta gadget. Berbeda dengan Aisyah Nawangsari Putri ( 18 ), Sasa panggilan akrab mahasiswa Jurusan Komunikasi Airlangga ini mengaku tidak tertarik menggunakan alat komunikasi BlackBerry atau Android, Gadis berjilbab ini mengatakan “ Memang aku gag terlalu tertarik sama BlackBerry apalagi Android soalnya gag kuat bayar biaya pulsa bulananya, yah jadi mendingan pakai HandPhone biasa ajalah, yang penting bisa dibuat telepon , sms , dan internetan,”ungkapnya.

Android dan BlackBerry terkadang bisa menjadi pertimbangan antara kebutuhan atau hanya sekedar mengikuti trend yang ada , Dheo Ardy Luky ( 19 ) mahasiswa jurusan Komunikasi Universitas Airlangga mengatakan “ Aku beli Android itu karena mengikuti trend dunia saat ini, kalau BlackBerry kan urutan ke 4 dalam urutan SmartPhone, jadi aku lebih milih Android,” katanya. (gek)