Saturday, May 14, 2011

Dibayar Empat Ribu, Tetap Pilih Ludruk


MANDIRI : Ary Setiawan (kiri) merias diri sendiri sebelum bermain ludruk
Ketika anak kuliahan seusianya sibuk mengerjakan tugas di kampus, atau sekedar nongkrong di Coffee Shop sambil browsing berjam-jam lamanya, tidak halnya dengan Ari Setiawan. Mahasiswa Antropologi Unair 2009 ini justru memilih ludruk sebagai “teman” sehari-harinya.

“Dendam Putri Blorong”. Begitulah judul cerita ludruk Irama Budaya malam itu. Tidak banyak yang hadir ketika pertama kali saya menginjakkan kaki ke dalam Tobong (tempat pertunjukkan Ludruk, red) yang berada di belakang THR Surabaya.  Padahal harga tiket pertunjukkan terbilang sangat murah, hanya Rp 5.000,- saja.

Ludruk baru akan dimulai pukul 21.00. Saya dan kelima teman saya sengaja datang satu jam lebih awal sebelum pertunjukkan dimulai. Dengan harapan, kami bisa memotret proses persiapan Ludruk untuk dijadikan bahan tugas kuliah. Namun sayang, malam itu kami hanya diperbolehkan untuk memotret suasana pertunjukkan saja oleh si pemilik Ludruk.

“Selasa atau kamis depan saja mbak-mas, kalo mau foto suasana backstage. Kalo malam minggu gini mending foto suasana di depan panggung saja, karena penontonnya cukup rame. Lumayan kalo mbak-mas pengin foto penontonnya juga,” saran Sunaryo, alias Sakia, si pemilik Ludruk yang sedang santai menjaga pintu loket.

Tak lama kemudian sms dari Ari pun datang. “Eh, masuko rek! (masuk aja ke backstage, red). Nggak apa-apa kok,” tulis Ari di smsnya. Ari, atau lengkapnya Ari Setiawan, memang menjadi tujuan utama kami malam itu. Kami berenam hendak memotret keseharian Ari sebagai mahasiswa yang juga menjadi pemain ludruk. Namun, malam itu kami pun menolak ajakan Ari untuk masuk ke backstage.Kami  hanya memotret aksi Ari di atas panggung saat pertunjukkan di mulai.

Pilihan kami untuk menjadikan Ari sebagai bahan tugas Fotografi Jurnalistik bukan tanpa alasan. Mahasiswa Antropologi Unair angkatan 2009 ini merupakan pribadi yang unik. Dengan rambut dikuncir plus setelan kaos agak kekecilan beserta celana jeans, Ari berpakaian ala kadarnya saat berada di kampus. Namun, siapa sangka, di luar kampus Ari adalah seorang pemain ludruk professional .
                                                             
Mungkin akan beda ceritanya, jika lima tahun lalu Ari tidak mengikuti festival ludruk remaja se-Jawa Timur.  Kepiawaiannya dalam berakting dilirik oleh para dedengkot ludruk Surabaya yang menjadi juri di ajang tersebut. Ari  yang saat itu memenangkan penghargaan penampilan terbaik dan sutradara terbaik langsung ditawari untuk bergabung dalam paguyuban ludruk Irama Budaya.  

Namun karena masih harus berlatih dan menyelesaikan studinya di SMA, alumnus SMAN 21 Surabaya ini baru bergabung dengan Ludruk Irama Budaya setelah lulus bangku SMA.  Ari pun lalu memilih menunda masuk Perguruan Tinggi selama setahun demi menekuni karier-nya sebagai pemain ludruk.

“Ludruk itu pilihanku. Sayang kalo nggak ditekuni. Aku kadung (terlanjur,red) seneng sama ludruk. Di sana aku ketemu banyak temen. Lagipula ludruk itu kan salah satu warisan budaya. Kalo bukan kita yang melestarikan, siapa lagi?” ungkap Ari yang hanya mendapat bayaran Rp 4.000,- tiap kali manggung.

Di atas panggung, Ari sering berperan sebagai waria. Keahliannya dalam nyinden dan nembang, menjadi nilai plus Ari saat bermain ludruk.  Puluhan tembang Jawa pun kerap ia bawakan dari satu panggung ke panggung yang lain. Jika sudah begitu, lemparan bingkisan dari penonton pun kian berlimpah.

Karena biasanya ketika pemain bisa membawakan lagu yang direquest penonton, maka penonton tak segan-segan menyawer mereka dengan bingkisan atau bahkan uang tunai. Dari uang tersebutlah  para pemain ludruk biasanya menabung untuk membeli peralatan kebutuhan ludruk.

“Jangan salah lho! Untuk make-up kami pakai Revlon setiap pementasan. Walaupun harganya terbilang tinggi, kami bersyukur, apresiasi penonton membuat kami mampu membeli barang-barang itu,” cerita Sakia saat hari ke-2 kami menemuinya di backstage.

Hari berikutnya kami berhasil menembus backstage, kami pun mendapati keahlian Ari lainnya, yakni  merias wajah. Para pemain yang hampir semuanya adalah laki-laki ini ternyata mampu merias wajahnya sendiri. Tak terkecuali Ari, yang pandai pula menata rambutnya dengan sanggul.

Diakui oleh Ari, kemampuannya dalam menata rias membuatnya bisa mengumpulkan Rupiah untuk membeli keperluan ludruknya. Hasil merias orang saat mantenan, misalnya, membuat Ari bisa membayar kuliahnya juga.

“Hasilnya bisa sampai Rp 500 ribu ke atas. Jika sudah mencapai angka itu, aku pun bisa membayar kuliahku sendiri. Nggak nyangka dari awalnya hanya untuk keperluan ludruk bisa merembet untuk bayar kuliah,” terang bungsu dua bersaudara ini.

Totalitas Ari di dunia ludruk bukan berarti ia melupakan kuliahnya. Pemuda yang tergabung dalam BEM Fisip Unair ini mengaku ingin menjadi  Sarjana Antropologi Linguistik. Ia bercita-cita ingin mendalami Bahasa Jawa yang juga sering dipakainya ketika di atas panggung. (zaq)








No comments:

Post a Comment

Post a Comment